Showing posts with label rasul. Show all posts
Showing posts with label rasul. Show all posts

Thursday, April 19, 2007

KEMELUT KEPIMPINAN SELEPAS RASUL(1)

Pembahasan Pertama : Bagaimana Timbulnya Syi'ahisme?

Secara keseluruhan dan global dapat kita pastikan bahwa Tasyayyu' adalah, "Hasil produksi pengelola motor dakwah Nabi" sejak beliau memulai karir dan menjalankan tugas sucinya sebagai Duta Luar Biasa Allah SWT. Syi'ahisme merupakan formula yang berkualitas tinggi dengan khasiat yang tak dapat diragukan lagi dan diramu seteliti mungkin sebagai konsep istimewa yang dipaparkan guna menjaga kesinambungan dan kelangsungan program kerja penyebaran dakwah Rasul dan guna mewujudkan cita-cita luhur beliau untuk menciptakan masyarakat yang sadar sepenuhnya akan pditik, sosial, dan budaya serta maju seiring dengan proses naturalis evolusi dan perkembangan yang lumrah dan normal. Hal ini bisa kita simpulkan secara rasionil bila memantau dengan seksama dan jeli ke arah dakwah yang merupakan proyek besar yang dicanangkan oleh Rasul dalam lingkar batas situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Langkah dan kebijaksanaan pertama yang diambil Nabi dalam upaya menjaga kelancaran dan memobilisasikan masyarakat ke arah dakwah ialah mengendalikan tali pemerintahan dan kekuasaan den­gan tangan beliau sendiri dan secara langsung menanganinya dengan melibatkan diri secara total dalam aksi dan operasi politis yang beliau galakkan sendiri demi kesuksesan proyek. Langkah kedua ialah berusaha sekuat mungkin dengan persiapan yang matang agar program ini tidak mandek dengan melancarkan aksi perombakan dan pembenahan total dalam tubuh masyarakat; moral, mental, pola tindak, cara berfikir, watak dan seluruh aspek yang bertalian erat dengan mereka.

Patut diingat bahwa operasi perombakan dan pembersihan total serta menyeluruh itu tentunya memerlukan jangka waktu yang tidak sebentar serta menuntut adanya kekuatan yang dapat diandalkan untuk mengawal perjalanan dakwah dalam mencapai kesuksesannya yang gemilang dan besar sekaligus untuk menepis dan menyingkirkan segala macam hambatan dan gejala-gejala kelesuan yang bisa mengganggu kelancaran proyek penyebaran. Mengingat perbedaan antara Islam dan kultur jahiliyah sangat jauh dan bersifat fundamental, maka tugas berat beliau ialah merintis dari awal mula menciptakan manusia muslim seutuhnya dari manusia yang sama sekali asing tentang nilai kesopanan dan telah menjadi bagian dari kepandiran jahiliyah yang luar biasa, membenahi manusia jahilis dengan membersihkannya dari segala jenis noda dan pengaruh kotor serta membebaskannya dari jeratan dan belenggu moral kultur jahiliyah.

Dalam memulai langkah baru ini, Rasul telah mengambil sikap yang mencengangkan dengan mempelopori aksi Sapu Bersih secara total terhadap dasar-dasar jahiliyah dalam tempo waktu yang relatif singkat sekaligus membuahkan hasil-hasil yang gemilang dan mengagumkan. Semestinya operasi perombakan itu harus dilanjutkan dan tidak berhenti begitu diketahui bahwa Rasul meninggal dunia. Perlu diketahui bahwa beliau seringkali memberitahukan tentang saat meninggalnya yang makin dekat. Itu sering dikatakannya, baik secara terang-terangan maupun secara implisit sebagaimana dalam peristiwa Hajjatul Wada’ yang mana itu memberi kesan kepada kita bahwa beliau tidak wafat secara tiba-tiba. Jadi, berarti beliau mempunyai kesempatan luang untuk memikirkan langkah-langkah berikut yang semestinya diambil dengan mempersiapkan rancangan dan konsep yang sempurna dan jelas demi terwujudnya semboyan proyek dakwah yang telah dirintisnya, apalagi - selaku muslimin - kita yakin bahwa adalah tugas dan kebijaksanaan Allah melalul sifat belas kasih dan kelembutan-Nya untuk melestarikan dakwah hingga menggapai kesuksesan yang diincarnya melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAWW. Dengan demikian kita sadari bahwa hanya ada tiga macam alternatif jalan yang mungkin salah satunya telah ditempuh Rasul demi masa depan dan keberhasilan program pengembangan dakwah beliau.

Alaternatif Pertama : Sikap Yang Mungkin Diambil Rasul

Bersikap pasif terhadap masa depan dan kelanjutan misi dakwah. Cukup hanya menyelesaikan tugas pemiliharaan dakwah selama masa hidupnya. Adapun kelanjutannya, maka nasibnya tergantung pada kondisi mendatang dan kemungkinan serta kejutan yang timbul kelak.

Alternatif dan interpretasi ini tidak layak bagi Rasul. Mustahil beliau tidak peduli akan kelangsungan dakwah selanjutnya, sebab alternatif dan anggapan "Rasul bersikap masa bodoh" ini hanya berdasarkan dan kemungkinan yang tidak rasionil dan tidak realistis.

Dasar Pertama:

Bahwa kemungkinan sikap dingin yang diambil dan diperlihatkan Nabi tidak akan mengganggu kelancaran dakwah setelah wafatnya, sebaliknya masyarakat kelak dengan sendiri berandalkan kreatifitas mereka akan sadar pada tanggung jawab mengembannya serta mampu bertindak selaras dengan kebijaksanaan dan langkah yang pernah diambil oleh Nabi dan seiring dengan apa yang telah digariskannya.

Dasar kemungkinan ini kurang realistis, bahkan kebanyakan segala sesuatu selalu memantulkan kebalikannya, mengingat dakwah yang telah dirintis. Itu merupakan serangkaian upaya perombakan total secara tuntas dan mengakar. Operasi tersebut digalakkan dengan dasar tujuan dan cita-cita membina masyarakat baru dan segar sekaligus mencabut segala macam akar yang lama sekali bercokol dan melepaskan segala macam tali kotor jahiliyah yang selama ini menjerat mereka sejak berabad-abad dan menjadi sistem sosial mereka satu-satunya dan menjadi cermin bagi pola hidup mereka sehari-hari. Operasi penyapuan sisa-sisa kanker jahiliah ini akan terbentur den­gan kemungkinan-kemungkinan bahaya yang akan timbul sebagai akibat negatif dari kevakuman dan ketiadaan seorang pemimpin atau akibat psikis dari kematian seorang pemimpin (Nabi) tanpa meninggalkan pesan atau mewariskan konsep bagi program pemerataan dakwah setelah sebagai efek dari pada tindakan spontan dan upaya penyelamatan sekonyong-konyong dalam rangka menanggulangi dan mengisi lapangan yang hampa dari seorang pemimpin. Secara alami kehampaan itu menuntut adanya tindakan penyelamatan darurat secara kilat guna mengisinya dengan tindakan dan sikap yang cepat dan spontan juga. Dengan kata lain keadaan tidak peduli akan kehampaan dan kesulitan. Keadaan hanya meminta pemimpin dan pengisi lubang. Hal ini akan lebih jelas lagi kalau kita memantau lebih dekat dan seksama, masyarakat pada saat itu sedang dilanda kegelisahan dan tidak tahu apa yang semestinya mereka perbuat, mengalami depresi yang amat kuat karena ditinggal wafat seorang pemimpin yang kharismatik dan sangat berpengaruh.

Bila kita beranggapan bahwa Nabi telah meninggalkan masyarakat dan arenanya tanpa terlebih dahulu mempersiapkan rancangan dan jadwal kerja yang matang serta tajuk demi menyongsong masa depan yang memprihatinkan, maka sebagai dampaknya, akan timbul tindakan dari pihak massa secara gegabah dan tidak sistematis yang "kebetulan" merasa bertanggung jawab dan berkepentingan menangani masalah untuk pertama kali. Hal mana, masalah-masalah tersebut sangat tabu dan sulit ditangani bila tanpa bimbingan pemimpin sebelumnya, apalagi bila ditangani oleh orang yang bukan profesional, sedangkan rakyat pada saat itu tidak mengerti dan tidak mempunyai gambaran yang cukup menjamin kemampuan mereka tentang hal itu. Namun sisi lain, kevakuman itu menuntut tindakan secepatnya dan segera dilaksanakan tepat pada saat masyarakat sedang dicekam duka dan dirundung kegelisahan karena Sang Pemimpin Besar pergi menemui Kekasih Sejati Allah SWT tanpa permisi.

Adalah logis, kebingungan ini sedikit banyak menghambat dan mengganggu konsentrasi dan menimbulkan stress dan kepincangan dalam tindakan, sampai-sampai salah seorang sahabat senior berteriak-teriak histeris

"Rasulullah belum mati! Rasulullah tidak akan mati! Siapa yang mengatakan mati!".

Pertanda bahwa kebingungan telah melanda seluruh lapisan masyarakat. Sikap lepas kontrol sahabat kawakan ini cermin dari pada opini masa yang ketegangannya belum reda karena ditinggal mati "Pengasuh", "Ayah", "Pemimpin" dan kebanggaan mereka Muhammad SAWW dan karena tidak ada pengganti yang sesuai.

Di samping itu semua, terdapat beberapa bahaya yang mengancam dan timbul akibat dari krisis integritas dan intelektualitas serta kenaifan tentang seluk-beluk serta perjalanan dakwah selanjutnya, yang mana pada saat genting dan mencekam Itu dibutuhkan seorang pemimpin prima dan arif seperti Nabi. Bahaya lain yang akan timbul ialah akibat buruk dari tindakan mendadak dan gerak reflek masyarakat dalam menanganinya, yang mana itu pasti tidak senada dan sealur dengan cara yang ditempuh Rasul sekallgus bertentangan dengan tuntutan misi serta konsekuensinya sebagai missi yang ditegakkan guna melenyapkan pertentangan spiritual antara masyarakat yang kala itu terpecah menjadi puak-puak dan blok seperti antara kelompok Muhajirin dan Anshar (masyarakat pendatang dan penduduk asli), antara suku besar Quraisy dengan suku-suku lain begitu juga antara penduduk kota Makkah dan penduduk kota Madinah.

Bahaya-bahaya tersebut akan lebih menakutkan bila kita sisipkan faktor oknum-oknum (Kaum Munafikin) apalagi setelah kita ketahui bahwa jumlah mereka bertambah banyak setelah kota Makkah ditaklukkan, yang mana penaklukan itu membuat orang-orang Quraisy ketakutan dan mengucapkan secara terpaksa dua kalimat Syahadat atas dasar kepuasaan hati dan kemantapan iman.

Bahaya-bahaya ini tidak hanya menimpa masyarakat dan mengancam eksistensi Islam saja, tapi ini semua merupakan refleksi alami dari tidak-adanya seorang yang dapat menggantikan pemimpin agungnya yang wafat. Dan masyarakat pada saat itu tidak hanya kehilangan seorang pemimpin, tapi kehilangan pengasuh berkharisma tinggi yang bergelar Khatamul Anbiya pelengkap semua ajaran para Nabi.

Abu Bakar dengan alasan hendak menyelamatkan Umat telah mengambil alih tampuk kekuasaan dengan gesit. Tindakan positif ini ia lakukan - katanya - demi masa depan dakwah dan kesinambungannya.

Kekhawatiran dan kecemasan itu juga terlihat ketika beberapa orang berbondong-bondong menuju Umar bin Khatab sambil berteriak-teriak:

"Sudikah Anda memimpin? Masyarakat sangat cemas akan kekosongan seorang pemimpin padahal saat itu situasi kondisi kembali stabil sejak upacara pelantikan dan penobatan Abu Bakar sebagai Khalifah."(Tarikh Ath-Thabari juz 5 hal. 26).

Kekhawatiran demikian juga melanda hati Umar. Hal ini terlihat dalam penunjukkannya kepada enam orang dari rekan-rekannya sebagai kandidat-kandidat terbatas jabatan Khalifah. Ini pertanda bahwa betapa besar kekhawatiran sahabat senior ini melihat dan membayangkan bahaya-bahaya yang timbul akibat kekosongan seorang pemimpin dan tidak-adanya pengganti berikutnya.

Umar sadar akan bahaya-bahaya dan gawatnya situasi jlka tidak ada seorang yang mengendatikan segera di nari sidang darurat Saqifah dan sadar akan efek negatif dari cara pembai'atan dan pemilihan Abu Bakar yang dilangsungkan secara mendadak itu. Kekecewaan tersebut tercermin dalam kesaksiannya pada detik terakhir dari sisa hidupnya. Kesaksian itu demikian bunyinya:

"Pembai'atan Abu Bakar sebenarnya adalah serpihan api (penyelewengan), hanya saja Allah telah menjaga muslimin dari pengaruh buruk pembai'atan tersebut!" (Tarikh Ath-Thabari juz 3 hal. 42).

Abu Bakar sendiri pernah mengemukakan penyesalannya atas tindakannya yang tergesa-gesa menerima tawaran untuk memimpin.la mengutarakan alasan penerimaan hanya karena ingin menyelamatkan keadaan yang kritis dan karena ia dapat membayangkan betapa bahayanya jika tidak ada seorang yang menggantikan Nabi. Itu tergambar dalam keterangan yang diberikannya: Rasulullah meninggal pada saat masyarakat masih baru menanggalkan busana pengaruh jahiliyah mereka dan memasuki hidup baru. Aku khawatir masyarakat akan kacau balau dan sesat, sedangkan sahabat-sahabatku tak peduli yang sebaliknya menggantungkan tanggung jawab ini kepadaku saja. (Syarah Nahjul Balaghah Juz 6 hal.42).

Jadi, apabila hal-hal diatas semua benar dan terbukti, maka tak ayal lagi bahwa Rasulullah akan lebih arif memikirkan dan merasakan efek dan bahaya yang akan timbul akibat dari sikap pasif tersebut. Beliau tentu lebih mengerti tuntutan dan langkah apa yang harus diambil demi upaya pembenahan dan operasi perombakan yang dirintisnya sendiri terhadap masyarakat Islam yang baru kemarin meninggalkan jahiliyah yang sejak berabad-abad menjadi sistem hidup mereka sebagaimana diutarakan oleh Khalifah Abu Bakar bin Abu Quhafah ra.

Dasar Kedua:

Bahwa Rasul mengambil sikap pasif demikian atas dasar bahwa tugas utama beliau adalah mengawal Dakwah Islamiah dan berhenti pada masa wafatnya. Maka sekali pun beliau menyadari akan efek negatif dari sikap pasif itu tapi beliau tidak merasa bertanggung jawab memikirkan masa depan dan prospek misi yang diembannya. Yang penting baginya adalah menjaga dakwah pada masa hidupnya dan telah dapat memetik keuntungan bagi pribadinya.

Dasar kemungkinan dan interpretasi sikap pasif dengan keterangan demikian tidak relevan dan tidak sesuai dengan kriteria sebagai pribadi pemimpin ideologi dan bijaksana. Apalagi kita memandangnya sebagai Nabi termulia yang mempunyai hubungan super natural dan halus dengan Allah SWT secara langsung dalam mengatasi segala urusan yang berkaitan dengan misi Risalah selaku pemimpin unggul yang merupakan manifestasi sempurna bagi seluruh kriteria dan wadah yang berisikan segala macam sifat dan syarat-syarat seorang pemimpin yang handal dalam ketulusan, loyalitas, kesetiaan, pengorbanannya yang tak terhingga dalam mensukseskan dakwah. Terbukti dalam buku-buku sejarah bahwa ketika Rasulullah hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas ranjang dan pada saat yang paling kritis dan pada saat rasa sakitnya mencapai klimaks beliau masih merasa bertanggung jawab untuk menyiapkan satuan perang yang memang sejak sebelumnya telah direncanakannya untuk segera diberangkatkan di bawah pimpinan komandan Usamah bin Zaid yang telah ditunjuknya meninggalkan kota Madinah menuju medan tempur. Berulang-ulang beliau berteriak sambil menyeru dengan nada jengkel dan marah:

Siapkan pasukan Usamah! Satuan tempur Usamah harus segera bertolak! (Tarikh AI-Kamil karya Ibnu Atsir).

Betapa besar perhatian Nabi pada masalah-masalah militer sedangkan pada saat itu, agar segera bertemu den­gan Kekasihnya dan meninggalkan masyarakat yang telah dibinanya untuk selamanya. Beliau tahu bahwa beberapa saat lagi beliau akan meninggal dunia. Namun detik-detik terakhir dari sisa hidup itu tidak menghalangi atau mengurungkan tekad dan tanggung-jawabnya meskipun beliau tahu hasll dan akhir dari pertempuran yang diserukannya itu menang atau kalah. Jlka demikian perhatian beliau pada masalah militer, bukankah suatu anggapan yang tidak relevan dan nihil sekali bila dikatakan bahwa Nabi Muham­mad SAWW tidak memikirkan masa depan dakwah secara keseluruhan, yang mana urusan militer merupakan salah satu dari aspek-aspek dan penunjangnya. Memalukan sekali bila kita beranggapan bahwa beliau tidak memperhitungkan dan mengukur bahaya-bahaya yang kemungkinan dapat menggangu kelangsungan dakwah.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rasul pada detik-detik yang paling mendebarkan dl akhir hidupnya sudah cukup akurat untuk memberikan bukti konkrit yang menolak mentah-mentah alternatif jalan pertama sekaligus merupakan gambaran yang cukup jelas bahwa Rasul tidak sepicik dan senaif apa yang mereka bayangkan dan perkirakan bahwa Nabi tidak peduli akan prospek dan nasib dakwah. Di samping itu terdapat sebuah teks hadis yang disepakati oleh kalangan Syi'ah dan Ahlussunnah, demikian terjemahan riwayat itu: Ketika Rasulullah hampir menghem­buskan nafasnya yang terakhir dan segera menemui Kekasihnya Yang Maha Kuasa, sedang pada saat itu ada beberapa orang yang berada dalam rumah beliau termasuk sahabat Umar bin Khatab, beliau meminta dengan suara parau tersendat-sendat sambil menahan rasa sakit dan nyeri:

"Berikan padaku selembar kertas dan tintal. Aku tuliskan untuk kalian semua sebuah pusaka tulisan yang mana jika kalian mematuhi isinya, maka pasti kalian tidak sesat setelah aku tinggal pergi." (Musnad Ahmad bin Hambal juz 1 hal. 300, Shahih Muslim An-Nisaburi juz 2 Bab AI-Washaya dan Shahih Bukhari juz 1 Kitab An-Nikah).

Usaha yang dilakukan Rasulullah ini dengan jelas menunjukkan bahwa beliau memikirkan dan prihatin akan bahaya-bahaya yang mengancam masa depan dakwah serta menyadari sepenuhnya akan betapa pentingnya menggariskan suatu konsep dan tajuk rencana kerja guna menyelamatkan umat dari penyimpangan sekaligus guna melindungi proyek tersebut dari kemandekan dan kegagalan. Bertolak dari sini kita dapat berkesimpulan bahwa tidak mungkin Rasul bersikap pasif dan dingin terhadap prospek dakwah.

Wednesday, April 11, 2007

KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH S.A.W

Pesanan Terakhir Rasulullah S.A.W (Isi Khutbah terakhir rasulullah SAW)

Ketika Rasulullah SAW mengerjakan ibadah haji yang terakhir, maka pada 9 Zulhijjah tahun 10 hijarah di Lembah Uranah, Bukit Arafah, baginda menyampaikan khutbah terakhirnya di hadapan kaum Muslimin, di antara isi dari khutbah terakhir Rasulullah SAW itu ialah:

"Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan, Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu, dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.

"Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi. Ingatlah bahawa sesungguhya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

"Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

"Wahai manusia sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak diberikan makan dan pakaian, dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

"Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah solat lima waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal saleh.

"Ingatlah, bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu, awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

"Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Qur'an dan Sunnahku.

"Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu."

Muhammad s.a.w

Nabi Muhammad s.a.w

Nabi Muhammad s.a.w. (محمد) adalah pesuruh Allah yang terakhir. Baginda adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam dan merupakan Rasulullah bagi seluruh umat di dunia. Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w. merupakan satu rahmat kepada manusia sekalian alam. Baginda bukan sahaja berfungsi sebagai seorang rasul tetapi juga sebagai pemimpin, ketua tentera dan juga sebagai pendamai. Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan di Mekah dan kembali ke rahmatullah di Madinah. Walaupun diketahui bahawa Muhammad merupakan rasul dan nabi terakhir bagi umat manusia oleh orang Islam, tetapi orang-orang Yahudi dan Kristian enggan mengiktiraf Muhammad sebagai nabi dan rasul. Nabi Muhammad merupakan pelengkap ajaran Islam setelah Nabi Musa dan Nabi Isa.

Surah Al-Anbiya, ayat 107 bermaksud:

Surah Al-Anbiya, ayat 107




"Dan tidak kami (Allah) utuskan kamu (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam."

Kelahiran

Nabi Muhammad telah diputerakan di Mekah, Arab Saudi pada hari Isnin, 12 Rabiulawal (2 Ogos 570M). Ibunya, Aminah, adalah anak perempuan kepada Wahb bin Abdul Manaf dari keluarga Zahrah. Ayahnya, Abdullah, ialah anak kepada Abdul Muthalib. Keturunannya bersusur galur dari Ismail, anak kepada Ibrahim kira-kira dalam keturunan keempat puluh.

Ayahnya telah meninggal sebelum kelahiran baginda. Sementara ibunya meninggal ketika baginda berusia kira-kira enam tahun, menjadikannya seorang anak yatim. Menurut tradisi keluarga atasan Mekah, baginda telah dipelihara oleh seorang ibu angkat(ibu susu:-wanita yang menyusukan baginda) yang bernama Halimahtus Sa'adiah di kampung halamannya di pergunungan selama beberapa tahun. Dalam tahun-tahun itu, baginda telah dibawa ke Mekah untuk mengunjungi ibunya. Setelah ibunya meninggal, baginda dijaga oleh datuknya, Abdul Muthalib. Apabila datuknya meninggal, baginda dijaga oleh bapa saudaranya, Abu Talib. Ketika inilah baginda sering kali membantu mengembala kambing-kambing bapa saudaranya di sekitar Mekah dan kerap menemani bapa saudaranya dalam urusan perdagangan ke Syam.

Masa remaja

Dalam masa remajanya, Muhammad percaya sepenuhnya dengan keesaan Allah. Baginda hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan bongkak. Baginda menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berkongsi penderitaan mereka dengan berusaha menolong mereka. Baginda juga menghindari semua kejahatan yang menjadi amalan biasa di kalangan para belia pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga beliau dikenali sebagai As Saadiq (yang benar) dan Al Amin (yang amanah). Baginda sentiasa dipercayai sebagai orang tengah kepada dua pihak yang bertelingkah di kampung halamannya di Mekah.

Berumahtangga

Ketika berusia kira-kira 25 tahun, pakciknya menyarankan baginda untuk bekerja dengan kafilah (rombongan perniagaan) yang dimiliki oleh seorang janda yang bernama Khadijah. Baginda diterima bekerja dan bertanggungjawab terhadap pelayaran ke Syam (Syria). Baginda mengelolakan urusniaga itu dengan penuh bijaksana dan pulang dengan keuntungan luar biasa.

Khadijah begitu tertarik dengan kejujuran dan watak peribadinya yang mendorong beliau untuk menawarkan diri untuk mengahwini baginda. Baginda menerima lamarannya dan perkahwinan mereka adalah bahagia. Mereka dikurniakan 6 orang anak (2 lelaki dan 4 perempuan) tetapi kedua-dua anak lelaki mereka, Qasim dan Abdullah meninggal semasa kecil. Manakala anak perempuan baginda ialah Ruqayyah, Zainab, Ummu Kalsum dan Fatimah az-Zahra. Khadijah merupakan satu-satunya isterinya sehinggalah beliau meninggal pada usia 51 tahun.

Kerasulan

Muhammad telah dilahirkan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Ia sungguh menyedihkan hatinya sehingga beliau kerapkali ke Gua Hira', sebuah gua bukit dekat Mekah, yang kemudian dikenali sebgai Jabal An Nur untuk memikirkan cara untuk mengatasi gejala yang dihadapi masyarakatnya. Di sinilah baginda sering berfikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kedurjanaan yang kian berleluasa.

Pada suatu malam, ketika baginda sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatangi Muhammad. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Baginda diminta membaca. Baginda menjawab, "Saya tidak tahu membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta Muhammad untuk membaca tetapi jawapan baginda tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Amat Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu baginda berusia 40 tahun. Wahyu itu turun kepada baginda dari semasa ke semasa dalam jangka masa 23 tahun. Siri wahyu ini telah diturunkan menurut panduan yang diberikan Rasulullah s.a.w. dan dikumpulkan dalam buku bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Quran (bacaan). Kebanyakkan ayat-ayatnya mempunyai erti yang jelas. Sebahagiannya diterjemah dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebahagiannya pula diterjemah oleh Rasulullah sendiri melalui percakapannya, tindakan dan persetujuan yang terkenal, dengan nama Sunnah. Al-Quran dan al Sunnah digabungkan bersama untuk menjadi panduan dan cara hidup mereka yang menyerahkan diri kepada Allah.

Cabaran-cabaran

Apabila Rasulullah menyeru manusia ke jalan Allah, tidak ramai yang mendengar seruannya. Kebanyakkannya adalah dari para anggota keluarganya dan dari golongan masyarakat bawahan, Antara mereka ialah Khadijah, Ali, Zayd dan Bilal. Apabila baginda memperhebat kegiatan dakwahnya dengan mengumumkan secara terbuka agama Islam yang disebarkannya, dengan itu ramai yang mengikutnya. Tetapi pada masa, baginda menghadapi berbagai cabaran dari kalangan bangsawan dan para pemimpin yang merasakan kedudukan mereka terancam. Mereka bangkit bersama untuk mempertahankan agama datuk nenek mereka.

Semangat penganut Islam meningkat apabila sekumpulan kecil masyarakat yang dihormati di Mekah menganut agama Islam. Antara mereka ialah Abu Bakar, Uthman bin Afan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidillah bin Harith, Amr bin Nufail dan ramai lagi.

Akibat cabaran dari masyarakat jahiliyah di Mekah, sebahagian orang Islam disiksa, dianiaya, disingkir dan dipulaukan. Baginda terpaksa bersabar dan mencari perlindungan untuk pengikutnya. Baginda meminta Negus Raja Habsyah, untuk membenarkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya. Negus mengalu-alaukan ketibaan mereka dan tidak membenarkan mereka diserah kepada penguasa di Mekah.

Hijrah

Di Mekah terdapat Kaabah yang telah dibina oleh Nabi Ibrahim a.s. beberapa abad lalu sebagai pusat penyatuan umat untuk beribadat kepada Allah. Sebelumnya ia dijadikan oleh masyarakat jahiliyah sebagai tempat sembahyang selain dari Allah. Mereka datang dari berbagai daerah Arab, mewakili berbagai suku ternama. Ziarah ke Kaabah dijadikan mereka sebagai sebuah pesta tahunan. Orang ramai bertemu dan berhibur dengan kegiatan-kegiatan tradisi mereka dalam kunjungan ini. Baginda mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Antara mereka yang tertarik dengan seruan baginda ialah sekumpulan orang dari Yathrib. Mereka menemui Rasulullah dan beberapa orang Islam dari Mekah di desa bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah dan orang-orang Islam Mekah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Mekah. Mereka menemui Rasulullah di tempat yang mereka bertemu sebelumnya. Kali ini, Abbas bin Abdul Muthalib, pakcik baginda yang belum menganut Islam hadir dalam pertemuan itu. Mereka mengundang baginda dan orang-orang Islam Mekah untuk berhijrah ke Yathrib. Mereka berjanji akan melayani mereka sebagai saudara seagama. Dialog yang memakan masa agak lama diadakan antara mayarakat Islam Yathrib dengan pakcik Rasulullah untuk memastikan mereka sesungguhnya berhasrat mengalu-alukan masyarakat Islam Mekah di bandar mereka. Rasulullah akhirnya bersetuju untuk berhijrah beramai-ramai ke bandar baru itu.

Mengetahui ramai masyarakat Islam merancang meninggalkan Mekah, masyarakat jahiliyah Mekah cuba menghalang mereka. Namun kumpulan pertama telahpun berjaya berhijrah ke Yathrib. Masyarakat jahiliyah Mekah bimbang hijrah ke Yathrib akan memberi peluang kepada orang Islam untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain.

Hampir dua bulan seluruh masyarakat Islam dari Mekah kecuali Rasulullah, Abu Bakar, Ali dan beberapa orang yang daif, telah berhijrah. Masyarakat Mekah kemudian memutuskan untuk membunuh baginda. Mereka merancang namun tidak berjaya. Dengan berbagai taktik dan rancangan yang teratur, Rasulullah akhirnya sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenali sebagai, 'Bandar Rasulullah'.

Madinah

Di Madinah, kerajaan Islam diwujudkan di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. Umat Islam bebas mengerjakan solat di Madinah. Musyrikin Makkah mengetahui akan perkara ini kemudiannya melancarkan beberapa serangan ke atas Madinah tetapi kesemuanya ditangkis dengan mudah oleh umat Islam. Satu perjanjian kemudiannya dibuat dengan memihak kepada pihak Quraish Makkah. Walau bagaimanapun perjanjian itu dicabuli oleh mereka dengan menyerang sekutu umat Islam. Orang Muslim pada ketika ini menjadi semakin kuat telah membuat keputusan untuk menyerang musyrikin Makkah memandangkan perjanjian telah dicabuli.

Pembukaan Kota Makkah

Pada tahun kelapan selepas penghijrahan ke Madinah berlaku, Nabi Muhammad s.a.w. berlepas ke Makkah. Tentera Islam yang seramai 10,000 orang tiba di Makkah dengan penuh bersemangat. Takut akan nyawa mereka terkorban, penduduk Makkah bersetuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa sebarang syarat. Nabi Muhammad s.a.w. kemudian mengarahkan supaya kesemua berhala dan patung-patung di sekeliling Kaabah dimusnahkan.